
Dari Basic Study Group sampai publish paper sebagai mahasiswa S1.
Pendaftar Open Mind Computing Laboratory 2026 tembus lebih dari 600 orang. Itu ratusan mahasiswa yang meluangkan malam mereka buat duduk dan dengerin cerita tentang sebuah lab kampus. Kami nggak nyangka animo sebesar itu, dan kami rasa ini layak diceritakan ulang.
Malam itu, Rabu 16 September, kami memperkenalkan nama generasi kami: EUREKA. Archimedes berteriak "eureka" waktu dia akhirnya nemu jawaban yang lama dicari, dan itu persis situasi lab kami sekarang. Selama bertahun-tahun, Computing Laboratory dikenal sebagai lab Competitive Programming, dan kami tetap bangga sama sejarah itu. Tapi nggak semua orang yang mau berkembang di dunia komputer punya jalan yang sama buat sampai ke sana. Nggak semua orang belajar coding sejak SD atau ikut olimpiade dari SMA.
Sekarang kami hadir dengan identitas baru, Computational Intelligence & Optimization. CP tetap jadi akar kami. Tapi sekarang ada jalan yang lebih luas. Kamu bisa mulai betul-betul dari nol, dan tetap punya kesempatan yang sama buat riset, bahkan publish paper sebagai mahasiswa S1.
Sekarang kami hadir dengan identitas baru, Computational Intelligence & Optimization. CP tetap jadi akar kami. Tapi sekarang ada jalan yang lebih luas. Kamu bisa mulai betul-betul dari nol, dan tetap punya kesempatan yang sama buat riset, bahkan publish paper sebagai mahasiswa S1.
Jenjangnya bertahap. Basic Study Group jadi titik awal buat yang belum pernah menulis satu baris kode pun. Materinya terhubung langsung ke ALPRO, pakai GoLang, jadi bantuan nyata buat UTS dan UAS. Dari situ, ada Advance Study Group dengan dua jalur spesialisasi, AI/ML/Optimization atau Competitive Programming, sampai ke tahap deployment project yang bisa jadi portofolio beneran. Di puncaknya, ada Research Group, tempat riset dan publikasi ilmiah lahir bersama dosen.
Tahun ini, penelitian kami, dari deteksi penyakit lewat citra medis sampai audit bias di AI dermatologi. Salah satu yang paling kami banggain: penelitian soal bias warna kulit di AI dermatologi. Mereka nemu kalau dataset yang lazim dipakai buat deteksi kanker kulit cuma punya sekitar 1.8% gambar kulit gelap. Intervensi standarnya pun nggak ngasih perubahan yang signifikan secara statistik. Bukan hasil yang menang, tapi hasil yang jujur.
Ada momen yang lebih personal juga, ketika Koordinator kami cerita soal perjalanannya sendiri di lab ini. Semester lima, dia belajar logistic regression pertamanya di Study Group, diajar oleh seorang aslab bernama Joshua Pinem. Sekarang dia jadi Koordinator generasi ini, dan katanya salah satu alasan dia jadi aslab justru buat membalas budi atas itu.

Sesi ditutup dengan tanya jawab, peserta bebas nanya soal lab, jalur belajar, sampai proses seleksinya.
Ada sesi Kahoot juga buat mencairkan suasana setelah materi panjang. Pemenangnya Grace Aritonang, anggota Basic Study Group Generasi 10 kami sendiri. Orang yang dulu mulai dari Basic Study Group, sekarang menang di acara yang memperkenalkan program yang sama ke generasi berikutnya.

Open Recruitment dibuka 16 sampai 27 September. Basic Study Group buat angkatan 2025 dan 2026, Advance Study Group buat angkatan 2024 dan 2025. Kuota terbatas, tutup 27 September.